Disfungsi Ereksi atau Ejakulasi Dini?

Kedua permasalahan ini sering menjadi momok yang menakutkan bagi para pria. Penyakit yang dapat mengurangi rasa percaya diri mengakibatkan para pria frustasi. Sebelum memvonis diri sendiri karena mengalami gejalanya, alangkah lebih baik jika dapat mengetahui perbedaan kedua jenis penyakit ini.

Banyak orang masih bingung dengan perbedaan kedua istilah ini, sehingga bisa salah dalam penanganan dan pengobatannya. Lalu apa perbedaan antara disfungsi ereksi dan ejakulasi dini?
Disfungsi ereksi

Disfungsi ereksi dapat juga diartikan sebagai kegagalan pria dalam melakukan ereksi ketika akan berhubungan intim. Kondisi ini menyebabkan alat kelamin tidak dapat tegak sempurna dan sulit untuk melakukan penetrasi.

Disfungsi ereksi terjadi karena gangguan fisik yang terjadi pada alat vital. Misalnya karena ada gangguan syaraf atau bentuk fisiknya. Faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit ini juga ditimbulkan karena suatu penyakit lain dan penggunaan obat-obatan yang keras yang dikonsumsi, atau karena gaya hidup yang tidak baik.

Kegagalan ereksi tidak selalu berhubungan dengan ejakulasi dini. Tetapi jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama akan mengakibatkan masalah dalam hubungan suami istri. Pengobatan yang dilakukan oleh penderita dapat melalui cara terapi, mengkonsumsi obat tradisional yang terpercaya, atau berkonsultasi langsung pada dokter.

Untuk kasus yang sudah akut, disfungsi ereksi dapat disembuhkan melalui operasi. Obat yang akan diberi oleh dokter sebagai pendamping biasanya berupa perangsang ereksi, peningkatan hormon testosteron, hingga pendampingan psikologis untuk menumbuhkan kembali percaya diri pada penderita.
Obat kuat ini terjadi yaitu ketika pria mencapai orgasme dan mengeluarkan sperma dalam waktu singkat. Sebetulnya tidak ada patokan waktu untuk melakukan ejakulasi, semua bergantung pada kepuasan dari kedua pasangan. Namun jika kondisi ini terjadi dan membuat hubungan intim menjadi tidak nyaman, maka harus segera ditangani dengan mencari solusinya.

Masalah ejakulasi dini lebih banyak terjadi karena faktor psikologis. Oleh karena itu pendekatan secara psikis dan kerjasama dari pasangan akan membantu penanganan masalah ini. Faktor stres, depresi, rasa cemas yang berlebihan, trauma di masa lalu, hingga melakukan onani pada saat muda dapat menjadi pemicu ejakulasi dini.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi ejakulasi dini, diantaranya dengan membangun komunikasi dengan pasangan agar timbul rasa nyaman dan meningkatkan percaya diri. Atasi stres, depresi dan rasa cemas dengan menumbuhkan sikap tenang dan atasi permasalahan segera agar tidak mengganggu pikiran.

Penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom juga dapat membantu agar dapat mengurangi sensitivitas penis. Selain itu melakukan kegiatan seks dengan bervariasi mungkin akan membantu kenyaman kedua belah pihak untuk mendapatkan kepuasan.

Setelah mengetahui perbedaan keduanya, maka cara yang tepat akan dapat dilakukan untuk mengatasinya. Penggunaan obat kuat ataupun terapi harus selalu mendapat rekomendasi dari dokter dan menggunakan bahan yang aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *